Selamat datang di blog orang ganteng ^_^

Minggu, 09 Desember 2012

RESONANSI JIWA

Rautan Meja Kayu

Suatu ketika ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anak dan menantu perempuannya serta seorang cucu yang berusia 6 tahun, karena sudah tua tangan orang tua itupun begitu rapuh dan sering bergerak tak menentu, penglihatannyapun buram dan cara berjalannyapun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama diruang makan, tapi sang orang tua yang pikun itupun sering mengacaukan segalanya, tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun membuatnya susah untuk menyantap makanan, sendok dan garpu pun kerap jatuh kebawah meja makan, dan disaat kakek ingin meraih gelas, tiba-tiba susu yang ada didalam gelas itupun tumpah membasahi taplak.Anak dan menantunya pun menjadi kusar karena mereka merasa direpotkan oleh semua ini.Kita harus lakukan sesuatu, aku sudah bosan membereskan semuanya untuk bapak tua ini,,,;ujar sang suami..; kedua suami istri itupun membuatkan sebuah meja kecil disudut ruangan, disanalah sang kakek akan duduk untuk makan sendirian saat semuanya menyantap makanan bersama. Karna sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkok kayu untuk si kakek. Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan, ada air mata yang tampak mengalir dari kurat keriput kulit wajah si kakek. Meski tidak ada gugatan lagi darinya, tiap kali nasi yang dia suap selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Tapi kata yang keluar dari suami istri ini hanya selalu berupa omelan agar ia tidak menjatuhkan makanan lagi. Sedangkan anak mereka yang berusia 6 tahun hanya memandangi semuanya dalam diam ketika kakeknya diperlakukan semena-mena. Hingga suatu malam sebelum tidur sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu dan bertanya lembut kepada anaknya “anak ku….kamu sedang membuat apa,,,?” dan si anak pun menjawab….” Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saat aku besar nanti, setelah itu akan aku letakkan di sudut rumah dekat tempat kakek yang biasa makan” anak itu tersenyum dan melanjutkan kembali pekerjaannya,,,,,,mendengar jawaban itu kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul, mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi. Lalu air mat pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka, walau tidak ada kata-kata yang terucap, orang tua dari anak tadi mengerti ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Dan mereka pun sepakat akan kembali makan bersama dimeja makan dengan sang kakek, tidak akan ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, atau makanan yang tumpah, atau taplak meja yang ternoda karna minuman yang ditumpahkan sang kakek. Kini mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan sang anak pun tidak lagi meraut untuk membuat meja kayu untuk orang tuanya kelak.

“anak adalah persepsi dari kita, mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan, mereka menirukan segalanya. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saatb dewasa kelak. Orang tua yang bijak akan selalu menyadari setiap bangunan jiwa yang disusun adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anaknya. Karna itu mari kita susun bangunan itu dengan bijak untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita dan untuk semuanya. Karna untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain sama halnya dengan tabungan masa depan kita. Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan dia akan belajar mencari cinta diseluruh dunia.”


Untuk cerita yang lainnya dalam bentuk mp3, silahkan download : 
IDWS :  http://adf.ly/Fm7pa
pass rar : wapuzumaki

0 komentar:

Poskan Komentar